Anak Sholeh Kesayangan Ibu

Ibunya selalu membanggakannya. Ia anak yang rajin, tekun belajar, hormat kepada orang tua, sederhana, dan yang terpenting, taat beragama. Ibunya tak pernah mengharapkan anak yang lebih baik daripada dia.

Sejak SMP dan SMA, dia tak pernah luput shalat lima waktu. Sesekali, jika sedang tidak disibukkan tugas-tugas sekolah, ia akan berangkat ke masjid untuk menunaikan shalatnya. Bahkan ketika mendekati masa ujian nasional, dia akan menyempatkan diri berpuasa tiap hari senin dan hari kamis seperti yang dianjurkan oleh agama.

Betapa bangganya ibunya setiap kali bercerita ke rekan sejawatnya. Rasa syukur dan sedikit jumawanya akan terlontar dalam setiap kisah tentang anaknya. Tak jarang pula si ibu menganjurkan rekan-rekannya untuk mengikuti doa yang dirapalkan agar anak-anak rekannya dapat sebaik dan sesholeh anaknya.

Tingkat jumawa dan syukurnya kian meroket ketika mendapati anaknya diterima di universitas kenamaan di negeri ini. Masa depan cerah menjadi jaminan mengingat jurusan yang diambil anaknya bukan main-main: akuntansi. Di kepalanya sudah bisa ia bayangkan anaknya duduk di gedung bertingkat ibu kota, mengenakan setelan jas kelewat rapi, berbicara memimpin rapat sebuah perusahaan yang selalu diawalinya dengan kata basmalah. Ya, itu semua berkat doa-doanya. Berkat doa-doanya, ia memiliki anak yang sholeh taat beribadah dan memiliki masa depan yang cerah.

Sayangnya, beberapa hari setelah memulai kuliah, anaknya mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan depan lawan depan dengan sebuah truk yang melaju kencang di jalan lingkar kota ketika ia berusaha menyalip mobil besar lebar dan lambat yang ada di depannya. Setelahnya, dia terbaring kritis di ranjang rumah sakit.

Si ibu, dengan tingkat iman yang tidak perlu ditanyakan lagi, selalu menemani anaknya di lorong tunggu rumah sakit, sambil memohonkan keselamatan bagi si anak. Jika dalam keadaan kritisnya si anak boleh ditemani di samping ranjang, ibunya akan tepat berada di sampingnya untuk membacakan surat-surat dan memohon kesembuhan anaknya kepada Tuhan.

Dalam setiap air mata yang tertahan, dia berdoa, “Ya Tuhan, sembuhkanlah anak hamba. Dia anak yang sangat taat kepadamu. Dia juga anak yang berbakti pada hamba, ya Tuhan. Hamba mohon, Tuhan, jangan ambil anak hamba satu-satunya, harta hamba yang tersisa di dunia ini.”

Beberapa hari setelah merutinkan ritual tersebut, perawat memanggil si ibu untuk masuk ke ruangan tempat anaknya dirawat. Ini bukan panggilan biasa. Ada raut wajah dingin yang terpancar dari sang perawat.

Begitu masuk, ia dapat melihat anakya berada di ambang sadar dan tidak sadar. Dokter yang berada di sana mengisyaratkan pada si ibu bahwa inilah saat-saat terakhir anaknya.

Sekejap saja, air mata meleleh dari bola mata si ibu. Dia masih berusaha tegar. Dia yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi anaknya. Didekatinya telinga kanan anaknya, dibisikannya kata-kata “la ilaha illallah” ke dalamnya, untuk menuntun sang anak agar mangkat dengan iman di akhir hayatnya.

Suara yang lemah keluar dari mulut sang anak. Ibunya mundur untuk dapat mendengarkan dan menatap anaknya untuk yang terakhir kalinya. Betapa kagetnya si ibu mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan anak sholeh kesayangannya.

Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, dia bicara pada ibunya, “Bu, aku tidak pernah percaya tuhan selama ini. Tidak pernah. Aku hanya berpura-pura agar ibu senang.”

Kata-katanya diikuti dengan senyum terakhir untuk ibunya. Sang ibu berdiri kaku mendengar kata-kata anaknya, seolah-olah ada petir yang menyambar tepat mengenai kepalanya.

Sebelum benar-benar menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali, sang anak menyelesaikan kata-kata terakhirnya.

Heil Hitler!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s