2002, Usia 9 Tahun

Ibu menangis. Bapak berteriak. Dari kamarku hanya terdengar suara piring pecah, meja dibanting, tamparan, dan suara kedua orang sebelumnya. Setelah terdengar bantingan pintu depan, ibu masuk ke dalam kamarku. Masih menangis, ia memukuliku dan berkata:

“Harusnya kamu tidak pernah dilahirkan.”

Ketika sudah larut malam, ibu akan tertidur karena lelah menangis. Saat itu, bapak akan pulang, masuk kamarku untuk berteriak, memukuliku, dan berkata hal yang persis sama.

“Harusnya kamu tidak pernah dilahirkan.”

Kemudian bapak akan menambahkan bahwa ibu adalah lonte terburuk sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Dan aku, menurutnya, adalah kesalahan terbesar yang seharusnya tidak pernah dibawa ke dunia. Setelah puas, dia akan menyeretku keluar kamar agar perempuan yang dia bawa bisa tidur dengan nyenyak di kamarku.

Jangan ditanya apa yang terjadi di pagi hari.

Beberapa tahun kemudian, rasanya sangat janggal mendengar temanku meminta doa untuk keselamatan ibu atau bapaknya yang sedang terbaring kritis di rumah sakit. Aku membutuhkan waktu yang lama untuk mencerna permintaan doanya. Benar juga, memang sudah sewajarnya seorang anak menginginkan bapak dan ibunya terus hidup, sehat, dan berumur panjang. Bukan sebaliknya.
Bukan sepertiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s