Balada Kota Raksasa

Lelah rasanya kuliah di kota raksasa. Berangkat pagi atau pulang sore lewat gejayan, jakal, atau palagan sama saja. Papan iklan satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Kemudian sembilan dan sepuluh dan beranak pinak hingga seterusnya bersebab persekongkolan kapitalisme dan waktu, yang membuat kota jadi kian murahan. Cih!

Mungkin beberapa tahun lagi, ketika papan reklame iklan sudah menjadi beratus-ratus hingga membentuk sebuah kubah raksasa di atas kota, sekadar melihat langit beserta matahari akan menjadi fitur berbayar yang ditawarkan kota raksasa pada warganya. Bayar dahulu, baru bisa dinikmati tanpa iklan!

Mereka yang tidurnya di dalam kubus-kubus apartemen itu, mereka yang kayanya naudzubillah, akan membeli fitur berbayar itu untuk mengajak anaknya melihat semburat senja atau gumpalan awan. Berkatalah mereka:

“Lihat nak, itu namanya senja, itu namanya awan. Dahulu, waktu bapak kecil, melihatnya bisa secara cuma-cuma. Kekasih paling kere pun dapat membuat wanitanya memberikan sekecup dua kecup kasih sayang hanya dengan menghadiahi senja yang bisa didapatkan bermodal bensin dan uang parkir. Sekarang jangan ditanya, mahalnya kelewat bangsat. Gajimu seumur hidup jadi manusia pun tak akan mampu membelinya. Indah, bukan?”

NB: tulisan barusan dibuat oleh mahasiswa periklanan.

Advertisements

3 thoughts on “Balada Kota Raksasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s