Jalan Gelap yang Kau Pilih, Jangan Kau Sesali

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar bahwa salah satu sahabat saya memustukan untuk melakukan sebuah lompatan besar dalam hidupnya: menjadi anak punk. Bukan tanpa alasan, sahabat saya mengambil keputusan tersebut berlandaskan cinta pada kekasihnya, untuk seiya-sekata berjuang dalam jalan yang bagi banyak orang sekadar hura-hura.

Mereka salah. Menjadi anak punk bukanlah hidup untuk berhura-hura. Menjadi anak punk adalah membulatkan hati untuk hidup sekelebat di jalan-jalan gelap yang enggan dilalui manusia rata-rata. Sudah diimaninya dalam hati bahwa jalan ini adalah jalan kebenaran, jalan suci, jalan para martir dan sufi yang lebih dulu melepaskan diri dari fatamorgana dunia dan menjadi anak punk yang seutuhnya.

Bukan main perjuangannya. Tiap pagi dia harus menyiapkan bendera slank seukuran 3×2 meter yang diperuntukkan sebagai atribut konser-konser band apapun. Dengan mata yang berbinar, sahabat saya ini menceritakan bagaimana euforia konser-konser yang dia lalui dalam melengkapi kehidupannya sebagai anak punk. Dari konser NDX, Slank, Young Lex, Xena Xenita, Iwan Fals, hingga Chrisye, setiap dikibarkannya bendera raksasa itu, seolah aliran energi semesta menghantam para punk milita yang lain, bersorak sorai menandakan mereka telah memasuki alam trans.

Sungguh, jika saya diizinkan oleh Tuhan untuk bercerita lebih banyak, tentu saja sudah saya beberkan segala perjuangan teman saya lebih dari itu. Dari usahanya mencuci bendera slank agar tetap bersih, kegigihannya belajar bernegosiasi dengan supir truk malam agar dibolehkan ikut serta perjalanan ke kota sebrang, hingga dengan terpaksa menyabotase RX King milik warga untuk digunakan mengejar sebuah konser suci.

Bukan. Bukannya saya ingin bermaksud menghasut anda menjalani kehidupan sahabat saya yang turut serta menjaga keseimbangan alam semesta. Bukan juga saya ingin membanggakan sahabat saya karena pencapaian spiritualnya yang sudah tercerahkan. Saya hanya ingin berbagi ketakziman saya ketika pertama kali mendengar cerita ini, cerita perjuangan ini. Jujur, saya pribadi merasa iri dengan sahabat saya yang sudah dengan tegas mampu mengambil jalan yang berat tersebut, jalan kebebasan, jalan seorang martir.

Untuk sahabat saya, di kota manapun kamu sekarang, di truk manapun kamu berada kini, di konser siapapun kamu mengibarkan bendera saat ini, jangan pernah melupakaan pesanku;
jalan gelap yang kau pilih, jangan kau sesali.

Advertisements

One thought on “Jalan Gelap yang Kau Pilih, Jangan Kau Sesali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s