Semesta, Bagaimana?

Suara sendok garpu yang beradu dengan piring-piring membangunkanku. Berisik dan lama sekali. Mungkin itu bapak atau kakak yang sedang makan. Biasanya perut mereka meronta untuk diisi pada jam selarut ini. Apalagi makan mereka yang kurang beradab tentu saja sangat mungkin memunculkan suara desingan logam perangkat makan yang terasa sangat janggal di telinga, sangat udik.

23.57. Aku bangun dari tidur soreku yang kelewat lama. Sepertinya aku akan terjaga semalam suntuk sebagai bayaran tidur soreku yang paripurna. Kucari telepon genggamku sebagai gerak reflek sehabis bangun. Pesan yang masuk selama aku tidur kuinspeksi satu per satu, siapa tahu ada yang mendesak untuk meminta balas. Saat itulah aku menemukan pesan dari ibu.

“Le, bapak, ibu, dan mas mu nginep di rumah simbah karena simbah sakit. Tadi kamu mau dibangunin tapi kamu nggak bangun-bangun. Yaudah, kamu tolong jaga rumah ya. Besok pagi kita pulang.”

Kepalaku yang masih melayang berusaha mencerna isi pesan tersebut. Jadi, keluargaku pergi ke rumah simbah, dan aku harus sendirian di rumah. Butuh sedikit waktu untuk mencerna pesan itu, hingga akhirnya aku ingat pada suara berisik perangkat makan di meja makan. Siapa?

Dengan sedikit takut, aku melangkah keluar kamar untuk menuju ke ruang makan. Aku mencoba mengira-ira siapakah yang menghasilkan suara itu. Maling, rampok, atau hantu? Tapi rasa penasaranku lebih besar daripada ketakutanku. Untuk berjaga-jaga, ada baiknya aku membawa tongkat kasti untuk melindungi diriku.

Ketika memasuki ruang makan, aku melihat orang itu yang membuat suara bising dari perangkat makan. Duduk menghadap meja makan, membelakangiku, menyantap makanan yang ada di hadapannya. Aku ragu sebentar. Saat keberanianku sudah bulat, kupukulkan tongkat kasti dari arah kanan menuju telinga kanannya. Entah dia hantu, maling, atau rampok, aku tak peduli. Kini dia terjatuh kesakitan. Dengan bantuan gravitasi, kupukulkan sekali lagi tongkat kasti itu menuju kepalanya sehingga dia berhenti menggelepar. Dia pingsan.

Dia tak hanya pingsan, tetapi juga berdarah-darah. Mungkin mati? Entahlah. Bisa gawat apabila dia benar-benar mati karenaku. Tapi sepertinya baik juga kalau dia mati semisal dia benar adalah maling, rampok, atau hantu.

Setelah aku sedikit lebih tenang, aku mencoba melihat wajahnya. Siapa dia? Sepertinya tidak begitu asing. Sampai pada akhirnya aku sadar siapa orang ini sebenarnya, kepalaku menjadi pusing dan badanku serasa encer. Yang nyata dan tidak mulai menjadi kebingungan pada diriku. Aku ingin muntah, tapi justru tertawa. Perutku mual serasa habis dipaksa memakan tinja.

Bagaimana mungkin orang tersebut adalah aku?
Aku adalah orang itu. Aku membunuh diriku. Aku dibunuh diriku.
Semesta sungguh sedang ingin bercanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s