Die as A Dreamer or Live Long Enough to See Yourself Become A Clown

Impian, hidup yang ideal, idealis. Entahlah dengan remaja 20 tahunan yang lain, tapi di umur saya yang sekarang, saya memiliki sebuah keadaan ideal yang ingin saya tuju. Saya menjalani hidup dengan sebuah pakem untuk menjaga rel kehidupan saya tetap dalam keadaan yang saya mau. Sebuah impian dan pakem hidup yang menjadikan saya memredikati diri sebagai seorang idealis.

Beberapa teman yang saya temui memiliki semangat serupa, dan beberapa orang yang sudah berumur saya ketahui sebaliknya, lebih realistis. Pada kelompok yang pertama, saya temukan motivasi untuk tetap menjadi diri saya dan demotivasi untuk menjadi kelompok yang kedua.

Caranya terlihat sederhana. Terus berkarya, pertahankan ideologi, dan tetap menjadi idealis. Titik.

Pada suatu masa, saya dituntun alam untuk menelusuri informasi mengenai golongan berumur yang secara lancang saya predikati realistis tadi. Penulis, filmmaker, seniman, musisi, aktivis, pemikir, dan sebagainya. Yang saya temukan adalah, mereka juga idealis pada masanya. Menjadi berbeda dari zaman mereka, dan terus-terusan mempertahankan nilai ideal menurut mereka masing-masing. Namun desakan usia akhirnya menjadikan mereka cenderung realistis di masa kini. Atau mungkin karena sebab lain yang tidak bisa saya perkirakan.

Karenanya, muncul sebuah pertanyaan di kepala saya:

“Bagaimana jika idealis hanyalah sebuah fase?”

Bisa saja saya buat sajak-sajak perjuangan saat ini, setelahnya saya membuat sajak yang banyak digandrungi anak SMP dan SMA di masa depan. Bisa saja sekarang saya membuat musik antimainstream, tapi kedepannya saya menjadi musisi yang pasaran. Bisa saja saya jadi aktivis pemikir ideologi kiri yang gondrong semasa kuliah, tetapi akhirnya saya memangkas rambut dan menunduk-nunduk meminta pekerjaaan pada perusahaan internasional juga. Bisa saja saya sombongkan karya-karya idealis saya saat ini, tapi kemudian besok saya menjadi murahan.
Bisa saja…

Bersebab urusan perut. Perut sendiri, perut istri, perut anak, perut kucing, perut pajak, perut kredit, perut gengsi. Mungkin.

Bukan. Bukan maksud saya meninggikan kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Bukan maksud saya juga mengharuskan saya menjadi kelompok yang satu dan mengharamkan menjadi kelompok yang lain. Kekhawatiran saya lebih tepatnya pada konsistensi saya untuk tetap menjadi salah satu kelompok saja. Sebuah ketakutan mendapati bahwa euforia menjadi idealis saat ini hanyalah sebuah fase dalam laju usia.

Semoga dugaan saya salah. Semoga tidak seperti itu yang terjadi.
Semoga…

 

“Mati muda sebagai seorang idealis, atau hidup cukup lama untuk melihat diri sendiri menjadi murahan.”

Advertisements

3 thoughts on “Die as A Dreamer or Live Long Enough to See Yourself Become A Clown

  1. “Bagaimana jika idealis hanyalah sebuah fase?”

    AKU JUGA BERPIKIR DEMIKIAN. Bahkan aku lalu berpikir, bagaimana jika kita beberapa tahun lagi menengok ke belakang, dan melihat bahwa idealisme kita yang sekarang ini (atau hal-hal lainnya yang kita anggap sakral) adalah fase alay 2.0. Sungguh membingungkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s