Klasifikasi

“Kalau aku boleh bilang, di dunia ini Tuhan telah membagi manusia menjadi empat jenis homo sapiens dalam kaitannya menghadapi impian hidup.

“Yang pertama adalah mereka yang tidak memiliki impian. Hidup mereka hanya berkutat di hari ini dan besok. Hura-hura, makan, berbahagia, bersenang-senang, menyambung hidup, dan kadang-kadang bercinta. Sepertinya hidup saja sudah sangat menguntungkan, buat apa yang muluk-muluk?

“Yang kedua, orang-orang yang sudah tahu betul apa dan bagaimana impian mereka sebenarnya. Mereka tahu apa yang benar-benar mereka inginkan dan apa yang membangkitkan antusiasme mereka sehingga mengutuhkan mereka sebagai manusia. Tapi sayang seribu sayang, mereka tidak melakukan apapun atasnya. Tetiduran di atas kasur, melanjutkan rutinitas, bercocok tanam di zona nyaman, dan kadang-kadang bercinta. Ketika mereka ditanya kenapa mereka hanya diam tak mengejar impiannya, jawabnya adalah mereka tak tahu harus berbuat apa.”

“Yang ketiga adalah orang-orang yang sudah tahu apa yang mereka inginkan dan mereka dengan nafas yang terhembus saat ini juga mengejar impian mereka. Mereka melakukan apapun yang membuat mereka lebih dekat dengan impiannya sekarang juga, dan kadang-kadang bercinta. Tak peduli tentang jalan-jalan kesuksesan yang dijalurkan orang-orang pada umumnya, mereka memiliki definisi sukses mereka sendiri. Mereka tercerahkan. Mereka memiliki dunia mereka sendiri, yang hidup. Mereka menghidup impian mereka. Hidup mereka adalah impian mereka. Bukankah itu menyenangkan?”

Dia berhenti setelah menceritakan yang ketiga. Dengan senyum lebar, menyeringai seolah puas telah mencetuskan sebuah teori maha bijak bestari yang dapat mengubah peradaban umat manusia hingga sepuluh abad ke depan atau setidaknya cukup lama hingga evolusi mengubah jerapah bunting dapat berdiri dengan dua kaki dan bermain sepakbola di padang Afrika. Akhirnya dia tersadar dari orgasme dini pencetusan mazhab filsafati manusia dan impiannya, kemudian dikukuhkannya kelengkapan teori self-made tersebut;

“Ah, iya! Dan yang terakhir adalah mereka, orang-orang yang terlalu lengang waktunya sehingga bisa diporsikan untuk mengurusi, me-nyinyir-i, dan menghakimi kehidupan orang lain beserta impian mereka. Mengelompokkan manusia ke dalam tahapan-tahapan tertentu berdasar apa yang mereka lakukan dengan impiannya, entah itu tak tahu, diam, atau berusaha menggapainya. Kemudian mereka akan tertawa puas oleh orgasme dini intelenjensi otaknya yang sebesar biji sawi dan kadang-kadang bercinta. Dan mereka akan menyampaikannya melalui sebuah pidato yang selalu mereka awali dengan mengatakan bahwa di dunia ini Tuhan telah membagi manusia menjadi empat jenis homo sapiens dalam kaitannya menghadapi impian hidup.”

Advertisements

One thought on “Klasifikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s