Dua Batang Rokok dalam Semalam

Bensin disiram sambil dirinya berjalan mengitari rumah itu, dipastikannya semua tembok tak ada yang luput sedikit pun. Pintu, jendela, gerbang, teras, semuanya telah dibasahinya dengan bensin. Rumah ini sudah siap, pikirnya.

Setelahnya, dia mengambil sedikit langkah menjauh dari rumah itu. Dari jarak tersebut, dia memandangi lagi rumah itu. Berdiri sambil memandangi. Entah apa yang dia pikirkan selagi berdiri. Mungkin beberapa memori memaksa masuk ke dalam pikirannya. Tapi dengan segera dia coba tepis jauh-jauh semuanya. Dia berusaha fokus. Dia harus fokus.

Sebungkus rokok dikeluarkan dari saku kiri. Diambilnya sebatang rokok yang kemudian diletakkan di antara bibirnya yang berwarna gelap. Di mana dia menyimpan koreknya? Saku celana kanan, saku celana kiri, saku belakang? Ah, ternyata berada di saku kemeja. Tanpa banyak membuang waktu, bersegeralah dia menyalakan sang rokok tembakau. Dihisapnya dalam-dalam sang rokok yang kemudian dia muntahkan kepulan asap yang samar-samar.

Gelap. Malam itu benar-benar gelap. Hampir mustahil untuk dapat melihat keadaan di sekitar. Hanya bara rokoknya yang terlihat merah menyalak setiap kali dihisapnya ke dalam paru-paru.

Dia sering menganggap merokok adalah meditasi. Setiap hisapan membawa ketenangan bagi dirinya, membuatnya lupa pahitnya dunia yang ia tinggali saat ini. Sedikit demi sedikit ia rasakan hisapannya, kemudian ia hembuskan gulungan asap secara perlahan. Begitu seterusnya sampai membentuk suatu pola. Hingga pada akhirnya ujung rokok yang menyala sudah hampir mencapai pangkalnya, menandakan waktunya sudah hampir habis. Bagi sang rokok, juga bagi dirinya.

Sekarang ia kembali diam mematung, hanya saja kini sebatang rokok terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, masih menyala. Perlahan dengan keraguan, ia berjalan mendekat ke rumah itu. Ia pandangi sekali lagi rumah itu seolah mencari suatu keyakinan yang hilang ditelan sang rumah.

Dilemparkannya batang rokok kerdilnya yang masih menyala ke rumah itu. Api merambat dari tembok yang dihantam rokok menuju ke segala arah melalui jalur bensin yang sudah disiramkan. Dengan segera, api unggun raksasa berupa rumah menyala-nyala, menerangi gelap yang sebelumnya merajai tempat itu. Terang. Terang dan Panas.

Tugas adalah tugas. Kini tugasnya telah selesai. Dia memalingkan diri dari rumah itu, berusaha menjauh. Sebatang rokok yang lain berusaha ia sulut sembari ia berjalan pergi. Dia harap rokok ini dapat membuat suara teriakan dan tangis kepanasan itu pergi. Ia paham betul, hanya berjalan menjauh tak akan membuat suara itu menghilang dari kepalanya selama berhari-hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s