Jalan Raya

Dua lima warna merah. Dua digitnya bersegera menjadi dua empat, dua tiga, dua dua, dan seterusnya. Di bawahnya, tepat di samping tiang kuning tempat sang angka disangga, bapak itu berdiri, membawa keranjang dari bambu yang dianyam dan diwarna merah dan putih. “Tahu Sumedang” tertulis di kertas yang menempel di keranjang yang dipikulnya. Bapak itu melamun, matanya yang dinaungi bayangan topi melihat jauh ke suatu arah yang entah apa. Kosong.

“Tahu!”. Lamunannya terbuyar karena sebuah teriakan. Matanya kini berusaha mencari dari mana sang suara muncul. Jauh di sana, dari penumpang salah satu mobil yang antrenya di ujung belakang. Si bapak berlari ke calon pembeli. Larinya secepat tenaga laksana mengejar tambatan hati supaya bisa segera direngkuh, dipeluk, dan disetubuhi hanya untuk si bapak seorang.

Si bapak mengejar harapan dan menghilang di ujung jalan, bebarengan dengan dua digit merah berubah jadi hijau cerah. Ada hidup yang perlu dipertahankan, begitu juga ada perjalanan yang perlu dilanjutkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s