Aku

“Yang aneh adalah..”, dia memberikan sedikit jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. “Orang-orang di sini berpikir bahwa pernikahan adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan. Hal itu, pernikahan, bisa membawamu pergi dari hiruk pikuk keletihan dan kebangsatan dunia yang kau jenuhkan, menuju alam imajineri yang selalu mudah untuk berbahagia. Kau diberikan jaminan untuk disayangi dan dirawat ketika menjadi tua dan renta hingga diurus pemakamannya, yang mana hal ini dipercaya dapat memberimu sekuritas sosial untuk menjadi bahagia, semakin jauh dari penasbihan kesepian dan ketakberdayaan. Seolah hal ini adalah hal yang mudah dan semua berjalan sesuai yang kau harapkan setelah ikrar diucapkan. Ini! Kebanyakan orang berpikir bahwa pernikahan selalu membahagiakan.”

Dia berhenti untuk menghirup nafas panjang, kemudian menghelanya.

“Menurutku ini konyol. Tidak ada yang benar-benar dapat menjanjikanmu kebahagiaan yang mutlak seberapapun kamu percaya padanya. Bagiku sendiri, kebahagiaan adalah menjadi bebas, menjadi binatang liar yang tak terikat keharusan dan larangan. Menjadi bahagia tak harus berkoloni seperti yang ditawarkan pernikahan dan melemparkan dirimu ke seperangkat ya dan tidak terhadap setiap tindakanmu. Aku tidak mau kebahagiaanku direndahkan dengan menjadi budak ritus-ritus yang mengatasnamakan cinta, atau bahkan cinta itu sendiri. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kebahagiaan yang kupercaya adalah melakukan apapun yang aku mau sekaligus mengetahui bahwa aku tak selalu bisa melakukannya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s