Pejalan Kaki dan Hujan

“Aku sangat membencinya. Kenapa dia melakukan ini padaku? Apa salahku sampai-sampai dia melakukan ini? Selama ini aku selalu berbuat baik padanya. Apa semua yang kuberikan masih belum cukup banyak untuknya? Tega-teganya dia berbuat seperti itu kepadaku. Aku sangat membencinya. Aku tidak akan mau menemuinya lagi. Dia sudah membuatku menderita seperti ini.”

“Tahu kah kamu? Pernah ada seorang pejalan kaki yang sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat yang jauh. Terlampau jauhnya, sampai-sampai perjalanan tersebut memerlukan waktu berhari-hari untuk dapat ditempuh. Di tengah perjalanannya, seketika saja turun hujan yang sangat lebat. Kilat halilintar bersorak sorai meramaikan pesta cuaca kala itu. Segera pejalan kaki itu membuka payung yang dia bawa agar tubuhnya terhindar dari basah. Dia ingat, dia perlu menemui seorang yang penting di ujung perjalanannya. Tak bolehlah pakaian basah kuyup mengganggu pertemuannya tersebut. Dan yang terpenting, dia tidak repot-repot memaki langit yang sangat tetiba menurunkan hujan lebat sore itu. Kau tahu kenapa? Karena itu sia-sia, membuang tenaga. Langit juga tak akan mendengarkannya.
Maka dari itu dia lebih memilih bersegera membuka payungnya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s