Nak, Ingatlah

Nak, sungguh, kamu perlu berhati-hati pada satu hal. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jadi dengarkan ini baik-baik, dan jangan pernah lupakan ini.

Kamu harus berhati-hati pada satu makhluk buas. Bukan singa atau macan. Singa atau macan tidak ada apa-apanya dibandingkan makhluk buas ini. Aku serius. Singa  atau macan tidak akan membunuhmu kalau perutnya tidak bergemuruh. Kalau “terpaksa” membunuhmu pun itu dikarenakan dorongan untuk memenuhi keseimbangan alam, dimangsa dan memangsa. Ada yang mati dan ada yang terlahir. Mereka juga cukup baik dengan membunuhmu hanya dengan tancapan taring atau sayatan cakar. Kemudian dagingmu dirobek bersama kulit-kulitnya, dikunyah, ditelan menuju saluran yang berada di dalam perut mereka, dan akhirnya menjadi tai. Keberlangsungan hidup mereka terjadi, terlahir singa-singa dan macan-macan muda yang meneruskan tugas ini. Tainya menyuburkan dataran di bawahnya hingga tercipta tetumbuhan yang biasa kamu makan. Tidak pernah lebih buruk daripada itu. Kau harus percaya ini.

Berbeda dengan makhluk buas yang satu ini, mereka tidak membunuh karena lapar. Mereka membunuh karena ingin. Sesak sudah memenuhi pencernaan mereka sampai perut mereka terjuntai maju dan jatuh. Tapi tetap saja tak mengurangi rasa lapar mereka untuk membunuh. Mereka membunuh karena ingin, nak. Karena ingin. Bukankah itu menakutkan? Mereka tak perlu alasan untuk dapat membunuhmu. Tak perlu menunggu lapar. Mereka dapat melakukannya kapanpun mereka mau. Waspadalah! Ditambah lagi cara mereka tak selembut singa atau macan. Mereka memuntahkan butiran logam dari pipa yang juga logam, dilesatkan tepat menuju kepala atau jantungmu. Jika sampai kamu terhantam salah satunya, rasanya akan seperti ditampar tangan raksasa yang maha kuat hingga membuatmu terjatuh tersungkur. Setelahnya, mereka akan menghapirimu, mengulitimu, memotong-motongmu menjadi bagian kecil, memasukkannya ke kaleng-kaleng sempit dan memakannya setelah darahmu kering. Menjadikan kulit dan kukumu cinderamata yang bisa disombongkan ke kolega mereka. Atau yang paling parah, kamu tidak dibunuh, tapi dibiarkan mengantre mati sembari menjadi peliharaan mereka supaya anak gadis mereka terhibur setiap kali bosan dengan mainan yang sudah orang tua mereka berikan. Tak ada cara mati yang lebih buruk daripada terus hidup menjadi milik suatu mahkluk lain. Camkan ini nak! Mereka berbahaya, mereka membunuh karena mereka menyukainya.

Ingatlah ini baik-baik.
Mereka menamai diri mereka manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s