Manusia, Ya Tuan.

Pernah aku berdiri di ujung makam ini pada suatu waktu di masa lalu. Saat itu sungguh berbeda. Tanahnya masih basah dihiasi bunga-bunga makam berwarna merah dan putih. Permukaannya belum ditumbuhi rumput kala itu. Hanya gundukan tanah yang makin tinggi karena ada tubuh di bawahnya, dilengkapi dengan payung makam yang tertancap sombong berdirinya. Di ujung sana dan sana dulunya dipasang beberapa karangan bunga belasungkawa yang entah dari siapa.

Kini, rerumputan sepertinya bahagia bersemayam di atasnya. Tanahnya masih basah, tapi bersebab hujan yang kian deras di ujung siang. Masih ada payung, tapi bukan payung makam yang dipegang tanah, melainkan payung yang kupakai untuk melindungiku dari serdadu hujan yang tak kira-kira kurang ajarnya. Karangan bunga sekarang juga sudah pulang ke peraduannya masing-masing, serasa enggan menemani pria di bawah tanah ini berlama-lama.

Satu hal lagi yang berbeda, aku tidak menangis kali ini. Beberapa tahun di masa lalu, tangisku melebihi hujan siang ini, jika boleh ku sombongkan. Menangis meronta-ronta bagai anak singa yang diterkam buaya. Kujadikan tangisku sejadi-jadinya. Tak peduli banyak manusia di sana yang menatapku, mereka seolah maklum saja. Begitulah lumrahnya orang yang kehilangan, pikir mereka.

Aku lupa siapa saat itu yang berkata. Direngkuhnya tubuhku, ditarik pergi menjauh. Aku tetap kukuh dengan tangisku. Mulai dia berkata “Kematian adalah kewajiban bagi yang terlahir. Satu kewajiban terakhir yang harus dilakukan, untuk kembali bersama Gusti. Semua orang tahu bahwa mati merupakan kewajaran bagi manusia. Semua manusia. Lalu, mengapa kau terkejut melihat kematian seakan-akan ia merupakan hal yang tidak lazim bagi bapakmu?”

Ku lanjutkan tangisku kala itu. Mana bisa aku menjawab pertanyaan seperti itu di waktu demikian. Tapi, tuan atau puan, siapa pun anda yang berkata kala itu, sekarang saya tahu jawaban pertanyaan terakhir anda.
Karena saya merasa memiliki dia yang mati. Karena saya merasa memiliki setiap hal yang diambil dari saya. Sebab itu saya menangis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s