Waktu yang Maha Nisbi

Sepertinya sudah terlewat lima belas menit. Atau mungkin lebih. Seharusnya seperempat jam yang lalu aku sudah keluar, duduk di tempat lain, melihat orang lain, melakukan hal lain. Kenyataannya, aku masih di sini. Duduk.

Dudukku di baris paling belakang. Berlawanan dengan itu, jauh di depan sana, pria itu berdiri. Berbicara. Dilakukannya sambil memberikan senyum yang kelewat konyol. Terus berbicara. Tak tahu bicara apa. Aku sudah tidak mendengarkan, apalagi peduli. Tetap, pria di depan terus berbicara dengan senyum dungu seolah dia memiliki gagasan cerdas yang semua orang harus tahu.

Tanganku mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja. Kaki pula demikian ke lantai. aku tak bisa diam. Tak tahan lagi. Pria di depan terus saja berbicara. Adakah yang memberitahunya bahwa omongannya itu tidak penting? Seseorang tolong tembak dia tepat di kepala. Atau tembak aku juga tidak apa. Yang penting bawa aku pergi dari sini. Aku tak tahan lagi. Ingin kuhantam kepalaku ke kepalanya supaya berakhir sudah hidupku atau hidupnya. Kita lihat siapa yang lebih keras kepala.

“Ada pertanyaan?”, ucap pria di depan, masih dilengkapi dengan senyum konyol yang terlampau menggelikan. Ayolah, siapa yang ingin bertanya di waktu seperti? Siapa yang cukup bodoh untuk bertanya sekarang ini?

“Saya mau tanya, mas…”. Sebuah suara bak halilintar terbit dari tengah ruangan.

Sekejap kebencianku membelah. Dari pria di depan, menyebar ke gadis yang duduk di tengah ruangan, dia yang mengajukan pertanyaan di saat seperti ini. Kulekati dia dengan pandangan yang siap melontarkan anak panah tepat di batok kepala bagian belakangnya. Aku tahu dia tak bisa melihatku. Ingin kubunuh juga dia. Kuraih lehernya dari belakang dengan sebilah pisau atau gergaji mesin. Biar menggelending kepalanya ku buat bermain bola, lalu kutendang agar mengenai pria di depan tepat di mukanya. Sempurna!

Aku sudah tidak peduli lagi dengan pembicaraan mereka. Pertanyaan dan jawaban yang aku persetan dengannya. Tuhan, jika kau memang benar ada, aku hanya ingin kelas ini segera berakhir agar aku bisa keluar dan menuntaskan keinginan makanku sedari pagi.
Aku sangat lapar.

Advertisements

2 thoughts on “Waktu yang Maha Nisbi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s