Beralih

Aku tidak bisa bergerak. Rasanya seperti dijatuhi berkilo-kilo beban di atasku. Diri terkunci oleh gravitasi. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan hanya lah berbaring. Hanya itu.

Aku bahkan tak dapat melihat apapun dari sini. Terlalu gelap. Mungkin cahaya terlalu takut untuk datang kemari. Menihilkan kesempatan mataku untuk mencari tahu bagaimana sebenarnya tempat ini.

Satu-satunya yang bisa kudengar hanyalah suara-suara orang. Apa yang mereka lakukan? Sepertinya ramai sekali. Apakah itu suara tangisan? Kenapa banyak sekali orang yang menangis? Kenapa mereka sedih? Suara tangisan ramai beresonansi, perlahan menghilang satu persatu dibarengi dengan suara langkah kaki yang menggema. Menyisakan beberapa tangisan saja. Hanya beberapa saja. Beberapa yang paling sesak. Aku tak tahu bagaimana, tapi aku bisa merasakannya.

Sebenarnya aku tak masalah dengan kegemingan, kegelapan, atau suara riuh tangis ini. Yang benar-benar menggangguku hanyalah dingin yang kelewat tak tertahankan. Tidak kah ada orang yang berinisiatif untuk menyalakan penghangat ruangan di tempat ini? Atau setidaknya beri aku beberapa lembar selimut hangat agar dingin ini tak semakin sombong merongrong bak preman pasar atau terminal. Ayolah!

Tapi entah kenapa aku tidak bisa merasakan marah atau takut dengan keadaan serba membingungkan ini. Mendengar riuh tangisan tadi pun hatiku tak tergerak untuk ikut sedih bahkan menangis. Meski begitu, aku juga tidak senang berada disini, apalagi bahagia. Aku hanya, bagaimana mengatakannya, tidak merasakan apapun. Sama sekali.

Apa yang terjadi sebenarnya? Sebentar, coba kuingat-ingat lagi. Sepertinya tadi… Ah! Aku ingat!

Aku telah mati! Iya, mati. Kalau tidak salah tadi, beberapa saat yang lalu, aku berada di sebuah ranjang rumah sakit. Juga, tak bisa bergerak. Ada beberapa selang yang dipasangkan ke tubuhku. Infus? Entahlah, kurasa lebih besar lagi. Bahkan ada yang dimasukkan ke tenggorokanku. Sumpah, itu sakit sekali! Dalam kekakuanku itu, aku melihat seorang wanita mengenakan pakaian serba putih melihatku dengan muka yang datar. Beberapa saat dia melihatku, mengamati sesuatu yang entah aku tak tahu. Kemudian ia keluar. Tak berselang berapa lama, ia kembali bersama beberapa wanita dan laki-laki. Yang laki-laki hanya menatap nanar ke arahku. Ada yang sedih tanpa menangis, dan ada yang mengusahakan terlihat sedih. Yang wanita, mereka menangis semua. Walaupun beberapa ada yang dipaksakan tangisnya, tapi sisanya bisa kurasakan itu tangisan yang menyakitkan. Aku tak tahu mereka siapa. Mungkin lebih tepatnya, aku tak ingat mereka siapa. Tapi yang jelas, walau aku tak mengingat mereka, aku merasakan hal yang sangat familiar dengan mereka. Entahlah. Beberapa saat setelah apa yang kulihat tadi, aku seperti ditarik dari ranjang tempatku berbaring. Setelahnya aku tak ingat lagi. Aku sudah berada di sini.

Ya, aku sudah mati. Setidaknya di sini tidak seburuk di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s