Maaf, aku lebih mencintai kursi

 

makursi

Tiba-tiba rasanya hanya ingin duduk. Di atas kursi. Tak penting apa dan bagaimana, yang penting kursi. Sekejap menjatuhkan diri di atas kursi. Duduk. Hanya duduk.

Sekonyong-konyong muncul pikiran “aku sangat mencintai duduk di kursi. aku mencintai kursi.”. Aneh. Tapi rasanya ini serius. Pikiran ini. Sekali lagi, aneh. Aku mencintai kursi? Aku mencintai duduk di atasnya? Di atas kursi? Aneh.

Mungkin karena dia hanya membiarkanku. Iya, yang kumaksud kursi. Duduk di atasnya, menyerahkan diriku tanpa dia meminta. Dia memang tidak pernah meminta. Aku hanya dipangku. Hanya aku dan dia, kursi, tidak ada yang lain. Ada keterikatan magis ketika aku duduk di atasnya. Seolah untaian kusut berkisut turun dari kepala, ditransfer oleh kursi, dan berakhir diserap bumi. Hilang. Ajaib!

Kupikir lagi ini hubungan yang aneh. Manusia dengan kursi. Akhirnya aku berakhir memikiran “aku mencintai kursi” dan menemukan diri sudah duduk di atasnya, di teras depan rumah, meminum teh kelewat manis sembari menatap jalan dan manusia lalu lalang. Duduk, minum, menatap. Seperti psikopat kelewat bangsat merencanakan pembunuhan di akhir pekan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s