Jangan Dibaca! Paling Nanti Juga Lupa

Kehidupan adalah jebakan.

Manusia yang hidup sudah barang pasti terjebak. Antara keinginan dan kepemilkan. Dua bandit berengsek kehidupan. Jagal kebahagiaan dan sebagainya, dan sebagainya. Sering bersembunyi dalam ini itu duniawi manusia, kita. Saya dan anda. Duh, rasanya ingin mengumpat.

Biasanya bekerja bersama, iya mereka, keinginan dan kepemilikan. Yang pertama disebut ini yang melakukan prolog. Padahal manusia dilahirkan sendirian, kosong, tanpa apapun, tak memiliki apapun. Disini tugas sang bandit yang bernama keinginan. Manusia yang tak memiliki apa-apa dibuat ingin ini dan ingin itu. “Sepertinya membahagiakan memiliki uang berlimpah”, “Sepertinya membahagiakan memiliki kekasih yang satu itu”, “Sepertinya membahagiakan memiliki pekerjaan ini”, “Sepertinya ini”, “Sepertinya itu”, “Kamu sebaiknya punya ini” dan bla bla bla. Dengan itu itu itu, manusia dibuat menghabiskan nafas untuk mengejar-ngejar yang belum ada. Supaya segera jadi ada, disini, seolah-olah dimiliki. Duh! Kalau tak jadi hanya bikin lelah hati! Sudah payah berlari tak juga kemari, kan repot!

Tidak semuanya tak terkejar. Kalau semuanya tak terkejar, kasian pemain kedua tak dapat giliran. Ketika keinginan tercapai, manusia dibuat merasa memiliki. Punya pacar, punya keluarga, punya rumah, punya hape, punya mobil, punya pekerjaan, punya prestasi, punya diri, dan punya punya yang lain hingga punya hilang artinya di kepala. Kepemilikan menekankan pada manusia bahwa ini semua punyamu. Jangan sampai kau kehilangannya. Sungguh merugi-rugi kalau sampai kalian kehilangannya, kata sang kepemilikan. Pas! Setelah dikendarai rasa lelah ingin memiliki, berlari dan berlari, sekarang manusia jadi kendaran bagi rasa takut kehilangan. Khawatir, takut, was-was, apabila hal-hal tersebut dan lain-lainnya yang dianggap miliknya kenapa-napa, atau kemana-mana. Lucu kan? Namanya juga hidup.

Seperti lolos dari kepala buaya masuk ke kepala buaya lain. Soalnya manusia berada di dalam kandang buaya bernama kehidupan. Yesh! Mungkin juga benar, mungkin juga tidak. Toh kebenaran juga konseptual, tidak mutlak dan saklek.

Kemudian ada agama. Solusi buat kedua hal tersebut. Ada beberapa versi dari beberapa agama. Ada ajaran yang mengatakan bahwa kehidupan adalah kumpulan duka. Artinya, segala hal di dalam hidup itu sumber dari duka. Termasuk keinginan dan kepemilikan. Jadi ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai, atau apa yang kita (rasa) miliki kenapa-napa, jangan sedih, sudah kodrat kehidupan kayak gitu, untuk menjadi sumber duka. Sudah lumrah kehidupan berjalan tidak sewajarnya. Expect less, hal-hal menyebalkan memang wajar terjadi, intinya gitu. Ada juga ajaran yang mengatakan bahwa “Segala hal di dunia ini milik Tuhan semata.”, nah ini sebenarnya intinya sama saja dengan yang pertama. Karena segala hal (tak terkecuali,) di dunia ini miliki Tuhan semata, ya jangan sedih kalau apa yang kita inginkan tidak dapatkan, atau apa yang kita (rasa) miliki pergi kemana-mana atau terjadi apa-apa. Kan semuanya punya Tuhan, bukan punya kita. Jadi untuk apa bersedih? Seloin aja bray! Inilah gunanya agama. Seperti perkataan teman saya yang mengutip guru kami SMP sewaktu dia bimbingan olimpiade sejarah dan saya tidak;

“Agama adalah bukti ketidakmampuan manusia menghadapi tantangan hidup.”

Mungkin beliau benar, mungkin juga tidak. Toh kebenaran juga konseptual, tidak mutlak dan saklek.

Sayangnya, saya saya dan anda anda, kita, sering lupa kalau kita punya antidot bandit kehidupan yang bernama agama dan ajarannya. Seringnya agama ini cuma dipakai yang iya-iya saja sama orang yang tidak-tidak. Kita lupa ada fungsi reminder bahwa kita sejatinya zonder kepemilikan. Akhirnya kita jadi lupa. Kita jadi lupa. Jadi lupa. Lupa. Mungkin wajar juga kita lupa. Soalnya memang Gusti pernah ngendika kalau manusia itu tempatnya salah dan lupa. Jadi, nggak papa, santai saja kalau salah atau lupa. Sudah approved by Gusti kalo kita memang wajar salah dan lupa.

Setelah berderet-deret kata di atas akhirnya nanti saya saya dan anda anda juga lupa kalau hidup itu tidak memiliki. Soalnya manusia kan memang tempatnya salah dan lupa, as approved by Gusti. Jadi yasudah, seloin aja bray. Semoga kita tidak terlalu sering-sering lupa. Apalagi lupa menikmati hidup karena baca tulisan ini.

Salam spaneng!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s