Berbagi Pagi

Tangannya bergetar tak bisa tenang. Kaki kirinya terus diketuk-ketukan ke lantai sedangkan yang kanan disilangkan di atasnya. Sesekali dia menatap ke arah kerumununan itu. Kerumunan yang tertawa. Sekejap berikutnya ia kembalikan lagi pandangannya ke layar di depannya. Kemudian berpindah ke botol kaca berisi sekumpulan krisan ungu hingga akhirnya berbalik lagi ke layar. Dia menatap layar putih kosong. Jarinya hanya bersandar di atas papan ketik, berusaha menekan tombol apapun yang terpikirkan. “Aku harus menulis”, desaknya pada diri. Dia coba menulis beberapa kata sampai dia mendengar suara yang berteriak “…terus malam minggu, Slank!”. Kemudian pikirannya buyar. Kata-kata yang barusan coba ditulis dihapus, direvisi. Tawa tiga wanita di ujung ruangan semakin kencang. Membicarakan hal yang berkaitan dengan diri mereka yang sama sekali ia persetan dengan semuanya. Musik yang diputarkan di cafe sama sekali tak membantu. Way Back into Love membawa pikirannya semakin mengembara. Entah kemana.

“Brazil!”, teriak tiga wanita di ujung ruangan. Teriakan yang menjadi prolog menuju tawa dan obrolan yang semakin keras. Seolah memastikan setiap orang di ruangan mendengar mereka. Persetan.

“Bisa kah aku mendapat pagi yang tenang untuk diriku sendiri?”,
gerutunya dalam kepala sembari menyerah pada keadaan 10.35.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s