Orang Dewasa

Dia tidak bergerak. Tidak juga berusaha untuk berpindah tempat. Dia biarkan semua jatuh ke atasnya. Tidak berusaha untuk lari atau menyelamatkan diri. Dia tidak merasa perlu melakukannya. Dia hanya berdiri diam disana.  Membiarkan dirinya di bawah hujan.

Dia masih tidak bergerak. Tatapannya lurus ke depan, memandang entah apa. Diangkat telapak tangannya menghadap ke langit. Kini pandangannya berpindah ke telapak itu. Tetes demi tetes beradu cepat memeluk telapak tangannya. Dirasakannya titik-titik air di telapak itu. Kecil, cepat, banyak, dan saling bergantian. Ia seolah memeriksa bagaimana rasanya tetes hujan itu. Basah. Setelah benar-benar yakin, dikembalikan tangan itu ke tempat semula.

Kini wajahnya yang diangkat menghadap langit. Sambil memicingkan mata, menghalau air masuk ke matanya, dirasakannya air menetesi wajah itu. Tetes berganti tetes mendarat di wajahnya pada titik yang berbeda-beda. Dahi, pipi, hidung, kelopak mata, bibir. Terus dibiarkan titik-titik itu menyentuh kulit di wajahnya. Matanya kemudian dipejamkan. Dia tenggelam ke dalam hujan.

Kapan terakhir kali dia tenggelam dalam hujan?

Semasa kecil, dengan senang hati ia masuk ke dalam derasnya hujan. Berlari, berputar-putar, dan menari. Membiarkan diri dipeluk hujan. Merasakan tetes demi tetes air menyentuh dirinya sambil tertawa. Mempersembahkan dirinya tanpa beban untuk bersatu dengan alam. Air.

Tapi kala kecil, tiap kali dia ingin, pasti orang dewasa selalu melarangnya. Dengan segala alasan. Kewaspadaan akan sakit, kedinginan, masuk angin, becek, kotor, dan lala lili orang dewasa yang tidak masuk akal. Bagaimana orang dewasa bisa melewatkan -bahkan melarang- kesenangan semacam ini? Sangat membosankan melihat hujan dari dalam rumah. Hanya mendengar sapanya melalui jendela.

Pada usianya kini, tidak ada orang dewasa yang akan melarangnya. Tapi kenapa dia melewatkan kesenangan ini selama bertahun-tahun? Dia mulai berpikir. Seiring dia bertambah usia, dia mulai malu untuk menenggelamkan diri dalam hujan. Seperti anak-anak, pikirnya. Dia tidak ingin menjadi seperti anak-anak. Atau paling tidak, dia tidak ingin terlihat seperti anak-anak. Berlari ke dalam hujan sambil bersenang-senang seperti melempar wibawanya ke dalam tong pembuangan. Hancur lebur. Satu-satunya kenangan dengan hujan pada waktu dewasanya hanyalah umpatan dan kekecewaan, karena menghalangi perginya atau membuat pakaiannya basah kuyup. Mengganggu, pikirnya. Seperti pikiran orang dewasa pada umumnya. Seperti orang dewasa.

Dia selalu membenci orang dewasa yang menghalanginya untuk tenggelam dalam hujan semasa kecil. Seiring berjalannya waktu, orang dewasa-orang dewasa itu mulai menghilang satu persatu. Walau begitu, dia tetap tidak bisa menikmati tenggelam dalam hujan. Kini, dirinyalah yang menghalangi dirinya sendiri. Dia telah menjadi orang dewasa. Dia adalah orang dewasa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s