Ruang.

Ruang itu gelap. Mungkin berukuran sekitar empat kali empat. Jendela sudah ditutup dengan papan-papan kayu yang saling silang satu sama lain, menghalau cahaya atau manusia untuk  masuk. Pintu pada tembok di sampingnya juga sama, ditutup paksa entah untuk menghalau apa. Hanya ada satu cercah cahaya yang turun dari langit. Cahaya yang diizinkan lewat oleh salah satu genteng yang cacat dan berlubang. Tak banyak, hanya secercah. Cahaya beruntung itu mengiluminasi, menyorot tepat ke tengah ruang. Jalurnya membentuk suatu garis diagonal dari atap hingga ke lantai tengah ruangan.

Sorot cahaya itu sedikit menerangi ruangan, memberikan gambaran samar-samar dari keadaan ruangan. Jika berusaha, kita dapat melihat keadaan ruang di sekeliling. Kosong, tembok dari kayu yang sudah termakan usia, rapuh, dan lapuk. Bagian ruangan yang paling jelas terlihat karena cahaya hanya lah tengah ruangan.

Berdiri sebuah kursi tepat di tengah ruang itu, di bawah iluminasi cahaya. Tipikal kursi kayu yang sudah termakan usia. Sandaran punggungnya terdiri dari lima batang kayu berbentuk pipa. Bagian atas sandarannya berbentuk papan yang didesain agak lengkung, untuk meyesuaikan punggung manusia saat bersandar.

Ada manusia. Dia duduk di kursi rapuh itu, di dalam ruangan yang gelap. Duduk, menaikkan kakinya ke atas kursi, mendekatkannya ke dada dan memeluknya. Tanpa pakaian, hanya menggunakan celana dalam. Kurus sekali. Tangan dan kakinya terlihat seperti tulang yang dibalut kulit manusia. Perutnya cekung ke dalam, memberikan aksen yang jelas pada tulang rusuk yang tak berdaging. Kulitnya seperti pakaian yang terlalu kecil untuk dipakai, memeluk terlalu erat dan ketat ke dalam tulangnya. Permukaannya berwarna pucat seperti daging sapi yang dibiarkan terlalu lama di luar ruangan. Wajahnya dibenamkan ke dalam pelukan kakinya. Tak dapat dilihat seperti apa wajah itu. Yang terlihat hanya kepala botak, dihiasi rambut berwarna abu-abu yang jarang-jarang masih tersisa.

Tidak ada suara. Hening. Gelap. Lembab. Hanya sesekali terdengar tetes air sisa hujan semalam, turun dari atap yang berlubang. Tetesan air menciptakan suara berinterval panjang. Kehadirannya mengundang lembab semakin hadir di ruangan.

Sebuah ruangan gelap, hening, lembab, dan sepi. Berisi manusia setengah mayat yang memeluk diri di atas kursi. Sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s