Keluarga Tikus

Aku memiliki keluarga. Ayah, ibu, kakak, dan diriku sendiri. Kami saling menyayangi, berada di dalam satu rumah, dan semuanya berjalan dengan semestinya. Tidak ada yang perlu ditakutkan kala itu. Tidak ada hal yang sekiranya mengubah keadaan, atau mebahayakan. Kami berbuat baik, maka kebaikan juga akan datang kepada kami.

Di rumah kami terdapat beberapa tikus. Mereka tinggal di lubang gelap tempat air biasanya keluar menuju pembuangan. Kami tidak berusaha untuk membunuh mereka, atau mengusir mereka. Biasanya mereka lah yang menghabiskan makanan-makanan sisa yang tidak termakan dari meja makan. Itu kami anggap sebagai bantuan karena akan sia-sia apabila masih terdapat sisa.

Kami hidup berdampingan. Manusia dan tikus. Atau manusia-manusia dan tikus-tikus.

Suatu hari, aku sangat gembira karena ulang tahunku telah tiba. Semua orang menyiapkan pesta untukku. Bukan pesta yang terlalu besar apalagi meriah. Hanya semacam perayaan makan bersama dalam satu keluarga. Dan ibuku membuatkan kue yang terlihat sangat enak. Sudah dibuatnya kue itu sedari pagi, disimpan di meja makan untuk dipotong, dan akan dilahap nanti malam. Aku sungguh tidak sabar!

Malam akhirnya tiba. Aku segera berlari ke meja makan. Kudapati kue ulang tahunku yang sudah dibuat sedari pagi tadi. Tapi kue itu bukan milikku lagi. Kulihat ada cuilan kue yang diambil tanpa permisi. Seperti seorang gadis yang direnggut kegadisannya sebelum disentuh suami. Ada yang mencuri icip kue ulang tahunku. Sebuah cuilan untuk sekali lahap.

Aku sangat marah. Pasti ini perbuatan para tikus. Mereka pasti telah memakan kue ku ini. Mereka pikir kue ini makanan sisa? Tidak! Ini kue ulang tahunku. Kue ulang tahunku yang berharga. Yang kini sudah tidak berharga lagi karena mereka sudah mencuri santap potongan kue ku.

Kalau mereka menginginkan kue, akan kuberikan mereka kue. Kupotong beberapa lapis kue ku tadi. Tiga potong kuletakkan di atas piring. Kutaburi racun tikus yang ketemukan digudang. Biarlah ini jadi santapan bagi kalian. Kalian yang sudah mencuri kue ulang tahunku.

 

***

 

Baunya sangat busuk. Busuk sekali. Bahkan menutup hidung pun seolah percuma untuk melawannya. Bau busuk ini datang dari lubang pembuangan air. Kakakku, apalagi aku, enggan mendekat untuk memeriksa apa penyebabnya. Kami tidak tahan dengan baunya. Hilirnya, ayahku yang kemudian turun untuk memeriksa penyebab bau busuk tersebut.

Bangkai tikus. Bau itu dari bangkai tikus. Ayahku mengeluarkan bangkai itu satu persatu. Satu, dua, tiga, empat. Ada empat tikus-tikus. Kumpulan tikus itu ada empat. Bukan, itu bukan kumpulan tikus. Mereka lebih terlihat seperti keluarga tikus. Ada yang besar, sedang, dan dua yang kecil. Mereka keluarga tikus.

Getaran rasa bersalah mengalir dalam tubuhku. Mereka sekeluarga tikus. Empat orang keluarga tikus. Aku bisa melihat mereka seperti ayahku, ibuku, kakakku, dan aku. Dibaringkan tanpa nyawa. Dijejerkan sedemikian rupa. Apa bedanya? Mereka juga keluarga. Pasti mereka juga saling menyayangi satu sama lain. Kenapa aku membunuh mereka? Mereka hanya ingin mencari makan untuk keluarga mereka. Atau mungkin bukan mereka yang mencuri santap kueku? Aku juga belum tahu pasti apakah mereka pelakunya. Bisa saja kakakku yang melakukannya. Aku tidak mencari tahu. Aku bodoh. Aku telah membunuh keluarga ini. Aku telah membunuh keluarga tikus.

 

 

*Tulisan di atas adalah interpretasiĀ dari karya seni Arin Rungjang berjudul “Phaulkon” yang saya jumpai pada sebuah pameran di sebuah galeri seni di Jogja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s