Pak Tua Penjual Kebahagiaan

Aneh, awalnya. Melihat bapak tua yang berjalan menggunakan alat bantu jalan yang dihimpit di tangan kanan, memakai topi SD merah yang sudah lusuh, dengan baju yang sudah lusuh juga. Entah ada apa dengan kakinya sampai perlu menggunakan alat bantu jalan. Tidak bisa ditebak, apalagi ditanyakan.

Yang membuat aneh adalah bapak tua tersebut membawa 6 balon berwarna pink dan putih, berisi helium yang tak terlalu banyak. Alhasil balon yang dibawa tak sebesar balon-balon perayaan.

Kontradiktif

 

“Mau beli balon nggak?”, dibalik kalimatnya tersirat rasa kasian, tepancar dari mukanya.

“Tapi gimana kalau ternyata bapak itu nggak jualan balon? Malah bisa bikin tersinggung kan?”

“Tapi kalau nggak dijual, buat apa bawa balon?”

“Ya nggak tahu. Siapa tahu dia ingin membawakan balon itu untuk cucunya yang ulang tahun karena cucunya pengen banget balon helium”

“…”

 

Akhirnya dengan menyisihkan keraguan, keduanya memutar balik motornya.Didapati mereka bapak tua tersebut sedang beristirahat di trotoar. Mungkin lelah karena sedari tadi berjalan dengan alat bantu tersebut sambil membawa balon.

Ternyata memang balon itu dijual. Sambil duduk, bapak itu melepas balon satu dari kawanannya, kemudian diikatkan ke balok kayu kecil yang ditahannya dengan kaki kiri. Kemudian disusul balon kedua dengan cara yang sama. Balon berpindah tangan, begitu juga beberapa rupiah berikutnya. Rupiah hijau kembali menjadi ungu untuk dua buah balon.

***

Kontradiktif.

Yang menjadikannya kontradiktif adalah seorang bapak tua yang memiliki kekurangan, harus menggunakan alat bantu jalan, membawa 6 balon helium berwarna cerah. Keadaan bapaknya yang (maaf) terlihat identik dengan kesulitan, kesedihan, dan rasa iba, datang bersama balon helium cerah yang identik dengan kebahagiaan, semangat, dan perayaan.

Mungkin ini cara semesta menunjukan dirinya. Menunjukan bahwa dirinya memang terbentuk atas kontradiksi. Kesedihan dan kebahagiaan. Dan manusia berada di antaranya. Manusia berada di antara kontradiksi yang menyeimbangkan semesta. Manusia berada dalam kesedihan dan kebahagiaan. Sekuat apapun tak kan dapat bertahan di satu kutub dan menghindari kutub lainnya. Yang perlu dilakukan hanyalah berdamai. Berdamai seperti sang bapak tua dan balon.

Serta mulia, Pak Balon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s