Pikiran Kala Senggang

Sudah pukul satu lewat sekian. Kelas desain komunikasi visual sudah dimulai. Kabarnya, sang dosen sudah datang setengah jam sebelum waktu perjanjian. Sungguh tepat waktu -atau bisa dibilang terlalu tepat- untuk seorang yang menenggelamkan diri di dunia seni. Aku selalu mengasumsikan kebanyakan orang yang membaktikan jiwanya di dunia seni tidak mengenal konsep waktu. Bergerak bebas tanpa mempedulikan konsep waktu karena kebabasan merupakan salah satu keharusan bagi mereka. Tapi jelas, tuduhanku yang stereotypikal terbantahkan karena orang ini.

“Tipografi” terpampang di layar pendar. Sepertinya kelas kali ini dikhususkan mengkaji satu dua hal berkaitan dengan huruf. Beberapa deret tulisan di bawah judul tidak begitu menarik. Pertemuan berlanjut ke pertemuan berikutnya, hingga pertemuan ini, tetap saja kelasnya membosankan. Hingga dia mengatakan sesuatu yang intinya:

“Huruf pada awalnya adalah perlambangan hasil buruan.”, dikatakan sembari menggambar huruf A kapital, menggambar lagi huruf A kapital yang terbalik, lalu menggambar sebuah kepala kerbau tampak depan. Kesemuanya berbagi ruang dengan huruf jawa dan beberapa tipografi yang sudah digambarnya sebelumnya, jauh waktu sebelum aku tiba di kelas.”Huruf-huruf ini merupakan hasil dari sebuah konsensus bersama -suatu perjanjian yang menyepakati bahwa suatu bentuk ini mewakili suatu bunyi ini, suatu bentuk itu mewakili bunyi itu, dan seterusnya.

“Setelah mendengar kalimat yang berinti “konsensus”, seketika pikiran mengembara. Terutama mengenai aksara jawa yang ada di depan kelas.

Menurut cerita yang diceritakan buku, lks, dan guru bahasa daerah sedari sekolah dasar, aksara jawa bermula dari kisah seorang muda yang sakti mandraguna. Dikisahkan ia memiliki dua pengawal. Ketika ia ingin mengembara, ia meninggalkan satu pengawalnya di tempat asalnya. Pengawal tersebut ia amanahi untuk menjaga pusaka yang ia tinggalkan di tempat asalnya, dengan penekanan bahwa pusaka itu tidak boleh ia berikan kepada siapapun selain sang pemuda. Kemudian pengawal yang satu lagi diajaknya plesir sembari pilgrimage bersama. Hingga suatu saat, singkat cerita, sang pemuda berhasil menaklukan suatu kerajaan dzolim nan jauh disana, dan dimandat menjadi raja. Akhirnya dia kangen dengan pusaka yang ia tinggalkan bersama pengawal yang juga ia tinggalkan di tempat asalnya. Dikarenakan terlalu mager, walhasil pemuda mageran ini meminta pengawal yang pilgrimage asik bersamanya untuk mengambil pusaka itu di kampung halaman. Singkat cerita dua pengawal ini berkelai hingga mati karena perintah yang inkonsisten. Yang satu memenuhi tugasnya untuk tidak memberikan pusaka kepada selain pemuda itu, yang satu lagi memenuhi tugasnya untuk membopong pusaka itu ke tanah impian baru. Keduanya mati. Akhirnya, pemuda ini membuat sebuah font jawa yang dikenal dengan aksara jawa untuk entah mengingat, menghormati pengawalnya, atau biar eksis belaka.

Hal yang membuat penasaran adalah, dari sekian banyak media yang bisa digunakan untuk menunjukan rasa hormat atau sekedar mengingat orang, kenapa pemuda sakti ini memilih membuat sistem penulisan huruf? Apa pertimbangan sebenarnya dari sistem penghurufan ini? Kenapa -dengan kesaktiannya- dia tidak menciptakan pahatan batu raksasa yang akan membuat orang selalu ingat mengenai kesetian dan kepatuhan pengawalnya serta kebodohannya membuat inkonsistensi perintah? Mengapa dia tidak berusaha membuat sebuah peninggalan fisik yang akan bertahan melawan tahun agar generasi baru tahu pernah ada dua orang yang mati konyol hanya karena majikannya ngidam mainan lamanya yang ia tinggal di rumah? Saya juga tidak tahu, saya hanya penasaran.

Dan lagi, jika merujuk pada kelas desain komunikasi visual yang tersebut di atas, huruf terbentuk dari sebuah konsensus yang disepakati bersama. Sekarang pertanyaannya, jika memang huruf adalah sebuah konsensus, dengan siapa pemuda ini menyepakati huruf jawa yang ini berbunyi ini, huruf jawa yang itu berbunyi itu. Dengan siapa dia bersepakat tentang huruf-huruf jawa? Atau mungkin pemuda yang sudah jadi raja ini terlalu mutusi sehingga dia dengan dirinya sendiri sudah cukup untuk menyepakati perihal huruf-huruf jawa ini. Atau mungkin juga rakyatnya setuju-setuju saja dia membuat huruf jawa sedemikian rupa karena rakyatnya terlalu apatis, ga peduli, atau malah takut dengan hal yang dilakukan rajanya. Sama seperti masa kini yang mayoritas orang -atau paling tidak saya anggap mayoritas orang, termasuk saya- tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang-orang di atas sana selagi saya masih bisa hidup. Atau mungkin juga pemuda ini merupakan raja yang otoriter sehingga ucapan dan keputusannya seputar pembuatan huruf jawa ini menjadi kun faya kun, jika kukatakn jadi maka jadilah, dan rakyatnya samina wa athona saja, dengar dan laksanakan.

Terlepas dari itu, mungkin cerita tersebut hanya rekaan untuk mewariskan tradisi tulisan jawa melalui cerita oral dari generasi ke generasi. Supaya tidak terlalu semembosankan “ini ada huruf jawa nak, bentuknya gini, gini, gini..”, maka diciptakan cerita backstory yang menghibur dan magis, dengan begitu generasi lebih muda dapat semakin menghayati penyampaian tradisi itu melalui media oral. Mungkin. Saya juga tidak tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s