Aku Menerimamu (part I)

Aku tidak percaya akhirnya aku melakukannya. Apa yang akan terjadi berikutnya? Apa yang harus kulakukan? Harus aku akui, aku puas melakukannya. Tapi harus kuapakan ini? Aku tidak bisa bersembunyi walau aku bisa mengulur waktu. Aku bingung.

Adrenalinku terpacu saat itu. Punggung dengan kemeja hitam sialan itu di depanku. Sungguh lonjakan amarah dan kebencianku memuncak mengingat apa yang sudah dikatakannya. Pun membayangkan apa yang akan dikatakannya tidak membantu menjinakkanku. Cara bicaranya yang menyebalkan membuat siapapun yang mendengarnya berbicara bisa merasakan nada mengintimidasi darinya. Dia memang menyebalkan.

Diputarnya badannya ke arah kanan dengan kaki yang juga kanan sebagai tumpuan. Sekarang aku bisa melihatnya. Kalau tidak salah kata yang ingin dia ucapkan adalah “Saya ma…” atau apalah itu, tepat sebelum aku menghentikan dia berucap.

Aku membunuhnya. Kuhantamkan sebilah pisau melalui rahang bagian bawahnya, tepat di antara jarak dagu dan leher. Sepertinya menembus rongga mulut hingga ke otaknya. Kulihat beberapa gigi gerahamnyanya juga copot berdesakan tempat dengan pisauku. Tentu saja dihujani air terjun darah dari lubang yang kubuat dan mulutnya yang menganga. Kucoba menarik pisauku tetapi lumayan sulit karena sepertinya menancap. Coba kutarik lagi dengan sekuat tenaga yang akhirnya membuahkan hasil. Tapi sepertinya tarikanku itu membuat sayatan masuk pisau tadi melebar di ujung-ujungnya. Keputusanku barusan menjadikanku melihat kepalanya yang sekarang berlubang. Ternyata aneh sekaligus jijik melihat kepalanya tidak sesuai dengan seharusnya, terutama karena lubang di rahang bawah yang kubuat. Yang baru kusadari adalah matanya tetap terbuka walau aku sudah menghantamnya dengan pisau. Menjadikannya semakin menakutkan dengan wajah berlubang itu. Dia mati. Jadi seperti ini rasanya membunuh.

Aku berdosa. Jelas aku telah membunuhnya. Menyuruhnya untuk bangun dari mati seperitnya percuma untuk membebaskanku dari masalah, aku bukan Isa. Harus kuapakan dia? Lantainya juga mulai menyukai darah itu sebagai warna baru mereka. Apa yang harus aku lakukan? Aku takkan bisa lari. Aku dalam masalah besar.

Aku harus menemui seseorang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s