Un-unsocial

Aku duduk di kursi penumpang di samping kursi pengemudi. Beliau yang mengemudi saat itu. Aku lupa kemana kami menuju, tapi yang jelas saat itu kursi belakang kosong tanpa isi.

Beberapa obrolan terjadi. Aku memang tidak begitu dekat dengan beliau sehingga obrolan terjadi padam redup, tergantung situasi. Kemudian kami melintasi sebuah rumah yang terlihat baru. Besar, bagus, modern. Rumah itu ditutupi dengan pagar besi yang menutup hampir seluruh muka rumah itu. Tidak menyisakkan celah untuk masuk atau keluar ketika pagar itu ditutup. Terlihat aman, pikirku.

“Rumah kok kayak kandang monyet gitu ya? Pakai pagar besi full nutupin muka rumah kayak  takut banget ada yang maling rumahnya. Padahal kan pagar yang paling bagus buat rumah bukan itu.”, komentar beliau.

“Trus apa, Mas, pagar yang paling bagus?”

“Tetangga.”

***

“Kata Mbah Kakung, besok kalo punya rumah, usahakan pagarnya pakai pager lepek. -Ya kalau punya rejeki (makanan) lebih, jangan lupa dibagikan ke tetanggamu dengan lepek (piring kecil), nanti biar tetanggamu yang jadi pagar rumahmu dari marabahaya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s