Air Putih

Saya ingin bercerita. Sebenarnya bukan cerita saya. Hanya saya kutip dan saya ceritakan sepenangkap saya saja. Karena cerita harus terus disampaikan. Agar saya dapat mempertanggungjawabkan ke Tuhan manfaat yang saya terima tak hanya berhenti di saya. Atau setidaknya gugur kewajiban saya karena sudah saya ceritakan.

Oh iya! Sebelumnya saya mau minta maaf karena saya tidak memberikan ilustrasi audio maupun visual pada setiap cerita yang saya bagi. Pertama, memang saya jarang mempunyai stok untuk hal tersebut. Kedua, saya terlampau malas untuk mencari. Semoga anda dapat mengilustrasikan audio serta visual yang anda butuhkan dari cerita saya dengan daya cipta imajinasi anda masing-masing ya 🙂

Awalnya begini. Saat itu saya sedang berada di kelas 10 SMA. Teater di sekolah saya mengadakan sebuah workshop pantomim-jika saya tidak salah ingat. Mengundang pengisi dari Bengkel Mime Theatre. Cukup menarik, pikir saya. Tak ada salahnya dicoba ditonton. Ada yang bilang, tidak ada ilmu yang sia-sia.

Kegiatan dimulai dengan pementasan pantomim-jika saya tidak salah ingat lagi. Memukau. Saya kagum. Pesan dari pertunjukan dapat tersampaikan meski tanpa komunikasi verbal. ini sebuah keajaiban, pikir saya. Dan karna saya nggumunan dan pengenan, terbesit untuk belajar pantomim saat itu. Yang beberapa hari kemudian letupan keinganan itu lenyap ditelan entah.

Yang menarik adalah, kemudian salah satu rekan dari Bengkel Mime Theatre bercerita-maafkan saya dengan cerobohnya kesulitan mengingat nama beliau. Tidak, beliau tidak berpantomim. Hanya cerita. Verbal.

Beliau mebawa sebuah gelas berisikan air putih. Dari jarak beberapa meter pun saya dapat melihat air dalam gelas tersebut bening. Walau demikian, tetap ditunjukannya air beserta gelasnya pada mata kami-kami. Setelahnya. gelas dilampiri sebuah cerita. Air dalam gelas tersebut ibarat saya dulu sewaktu masih kecil. Masih polos, suci, berlum ternoda, bahagia, penuh dengan hal-hal yang tak beda dengan masa kecil setiap kita.

Sekali lagi maafkan saya, dikarenakan saya kurang dapat mengingat secara rinci cerita beliau. Saya akan melanjutkan sesuai ingatan saya. Semoga substansinya tetap tersampai.

Kemudian beliau melanjutkan, pada masa kecilnya tersebut, beliau pernah mendapatkan kekerasan verbal. Jika tak salah ingat, dari ayahnya. Kemudian, beliau meneteskan satu tetes tinta hitam ke air putih dalam gelas bening. Air menjadi agak gelap. Tetapi bening tetap dominan.

Beliau bercerita lagi. Kemudian saya mendapatkan kekerasan fisik. Disusul dengan tetesan tinta hitam berikutnya ke air putih yang malang. Kemudian disusul hal negatif yang beliau terima lagi dan setiap tetes tinta hitam bertambah ke dalam gelas setiap beliau menceritakan hal negatif yang pernah beliau terima. Hingga pada akhir cerita, air yang seawal putih, sejadi hitam sepekat jadi.

Jelas dalam mata kami-kami air itu sudah jadi hitam. Njuk ngopo meneh iki?- pikir saya. Beliau setelahnya menyusulkan sebuah pertanyaan. “Air sudah menjadi hitam karena tinta. Menurut teman-teman bagaimana cara menjadikan air ini menjadi bening lagi?”. Berbagai jawaban bingung campur waton muncul. Didistilasi. Pakai mesin penyaring canggih. Diminum. Dibuang. Dibekukan. Dipigura. Diwisuda. Goblok, pikir saya.

Sambil tertawa karena mendengar jawaban konyol kami-kami, beliau mengambil gelas lain, gelas kedua, yang isinya air masih putih, bening, dan mulus. Disandingkan kedua gelas yang berbeda warna isi tersebut layaknya mempelai di pelaminan. Kemudian berkata beliau, “Nah, untuk menjadikan air dalam gelas ini menjadi putih adalah dengan…”

Air yang masih bening ditumpahruahkan ke gelas yang berisi air hitam. Padahal gelasnya dari tadi sudah penuh hampir-hampir tumpah, tapi tetap saja ditambah. Air semakin memenuhi gelas pertama. Tumpah. Tumpah. Teles. Duh, kudu nge-pel! 

Yang bikin kami nggumun, dengan menumpahkan air bening ke gelas yang berisi air hitam, lama kelamaan gelas pertama menjadi bening lagi. Kotoran hitam lama kelamaan menjadi hilang. Dan akhir bahagia, gelas pertama hidup bahagia selamanya dengan air bening. Tanpa kotor. Mulai dari nol lagi. Sama seperti hari raya dan saat kita mengisi bahan bakar di pom bensin pertamina.

Syukurnya, beliau tak sekejam itu meninggalkan kami secara remeh cuma nggumun sama air yang jadi bening. Beliau menambahkan sebuah cerita, semacam analogi,yang intinya seperti berikut ini:

Air bening yang ada di awal, ibarat kita semasa mula. Masih bening, bersih, polos, jujur, suci, indah. Dan tinta hitam ini, ibarat paparan kenegatifan yang kita alami dalam hidup kita hingga saat ini. Cacian, makian, pukulan, pikiran nakal, pikiran jahat, dosa, pengkhianatan, kebencian, dan hal yang kalian tahu lah. Lalu, bagaimana cara kita kembali menjadi bersih? Dengan menambahkan air lain yang masih putih hingga kotoran dalam diri kita hilang. Atau setidaknya, kotorannya berkurang. Air lain yang masih putih ibarat hal-hal positif yang kita isi dalam hidup kita. Hal positif tersebut bisa dalam bentuk apapun. Dan bagi saya, air putih tambahan saya adalah berpantomim.”

Menurut saya sendiri, air putih tambahan bisa jadi apa saja. Bisa saja dengan melukis, berdoa, membaca, menulis, menolong orang lain, membuat orang lain tersenyum, berolahraga, bernyanyi, menolong binatang, dan segala hal. Cerita ini selalu saya amini. Dan saya percaya setiap orang punya air putih tambahannya masing-masing yang bisa mereka pilih dan tambahkan ke dalam diri. Apapun itu. Bagaimana pun keadaannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s