Belajar Dengar

            Semester pertama memasuki kuliah. Jurusan yang saya ambil mempelajari tentang ilmu bertukar informasi. Saya pikir tentu saja segala hal yang akan saya pelajari tidak jauh dari berbicara dan menulis. Tapi keheranan datang ketika saya diharuskan mengambil kelas mengenai sejarah.

            Langkah kaki saya lontarkan secara ogah-ogahan. Bersama beberapa teman, saya menuju ruang kuliah yang bertempat di gedung baru. Cukup ramai. Memang gedung baru lebih sering dipakai mahasiswa dari berbagai jurusan di fakultas daripada gedung yang lama.

            Saya tidak terlalu ingat detail ruang kelas mana yang saya masuki. Yang jelas, ketika memasuki ruangan yang tempat duduknya dibagi menjadi dua kubu tersebut, saya memilih untuk mengambil tempat duduk di belakang. Selain, karena kelas tersebut sudah hampir penuh terisi di bagian depan, saya tidak begitu suka meminimalisir jarak dengan dosen ketika berada di ruang kuliah.

            Waktu yang disepakati untuk memulai kelas sebentar lagi tiba. Kelas yang sudah penuh hampir terisi sekitar delapan puluh orang tak ada bedanya seperti yang saya rasakan ketika jam kosong di bangku SMA ataupun ketika berjalan di pasar minggu pagi. Seseorang teman dari luar masuk sambil berteriak memberitahukan seluruh kelas bahwa dosen sudah mulai menghampiri kelas.

            Dosen masuk. Beliau adalah pria berumur kira-kira lebih dari masa emas, berbadan cukup besar, mengenakan kemeja yang terkesan santai serta topi seniman. Duduk di depan ruang kuliah, di meja yang letaknya diujung kiri kelas. Bersamaan dengan itu, kelas pasar minggu berusaha menjadi sebagaimana kelas seharusnya, hening. Ada yang membenarkan duduknya, ada yang berusaha menghentikan ceritanya dengan teman, ada yang hijrah dari teman ke layar ponsel. Seperti mengalami efek fade out. Setelahnya, dosen bertopi seniman mengambil mikrofon di atas meja, berdiri, kemudian berusaha ke tengah kelas. Beliau memulai kelas sejarah.

            Untuk beberapa saat menjelaskan, saya dapat menangkap bahwa dosen ini cerdas. Bukan cerdas semacam mendapatkan IP sempurna. Tetapi cerdas dalam bersudut pandang. Cara berpikir yang dimiliki beliau membuat saya tertarik. Namun, entah kenapa, kelas berangsur bising kembali. Mungkin karena cara penyampaian dosen bertopi seniman ini kurang begitu jelas walaupun sudah dibantu pengeras suara. Atau karena memang mereka tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan. Saya mengumpat dalam hati. Tida bisa kah kalian diam? Tidak bisa kah kalian menyadari kejeniusan pemikiran orang di depan kalian? Seketika saya ingat ungkapan yang pernah diberitahukan teman saya, “Jangan memberikan mutiara kepada babi.”, cukup relevan pada situasi ini.

            Dosen tersebut tidak terusik dengan kegaduhan kelas itu. Saya tidak bisa memahami sikap dosen ini. Bagaimana mungkin berbicara diadu bicara namun bersikap setenang itu? Atau mungkin hal itu disebabkan pengendalian emosinya telah matang setelah menjalani berpuluh tahun hidup dengan mahkluk bernama manusia. Dosen bertopi seniman terus berbicara, memberikan mutiara terbaiknya kepada manusia-manusia di depannya yang terus berkicau padahal bukan burung. Hingga akhirnya, sepertinya beliau sudah tidak dapat menahannya lagi, dia pun melontarkan mutiaranya yang lain. Mutiara tersebut kurang lebih seperti ini:

            “Kegagalan pertama komunikasi adalah ketika orang tidak mendengarkan. Sayangnya, ilmu tentang mendengarkan tidak pernah diajarkan di kelas-kelas.”

          Seketika kelas hening, menyadari sindirian yang dilontarkan dosen bertopi seniman. Dosen bertopi seniman pun melanjutkan materinya. Disusul dengan keheningan yang beranjak pergi lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s