Epilog.

Sudah berapa lama tidak berbagi?

“Dari hal yang berbeda-beda, dicampur menjadi satu, dilipat, digoreng, ditiriskan, dipotong, dan disajikan. Setelahnya, dinikmati bersama-sama sambil berbagai masing-masing dunia.”

Melalui tulisan ini, saya sebagai salah satu pengisi blog yang tidak ramai-ramai dan tidak terlalu fancy ini ingin mengucapkan selamat berjumpa kembali di lain kesempatan. Iya, saya memulai untuk berhenti menulis di Martabakasin.

Martabakasin telah menjadi wadah yang sangat menyenangkan bagi saya, salah satu wadah yang mengenalkan saya pada kegiatan menulis. Lebih jauh lagi, mengenalkan saya tentang orang seperti apa saya, dalam dunia tulis-menulis, juga dalam dunia manusia-memanusia. Namun, ada beberapa hal yang membuat saya harus menghabiskan potongan martabak terakhir saya.

Saya ingin berterima kasih kepada dua orang sahabat yang telah rela mengajak saya dan menginisiasi untuk membuat coretan isi hatinya di ruang kolektif ini, sama seperti menikmati sekotak martabak asin yang menjadi wadah bertukar pikir satu sama lain dari alam kehidupannya masing-masing. Hingga pada akhirnya, dua sahabat saya khidmat berkarya di jalannya masing-masing. Yang satu bisa ditemukan sedang menyajikan kebahagiaan di sebuah kafe di sudut kota Yogya, dan yang satunya sedang membagi kebahagiaan lewat layar sinema.  Dan saya sendiri, saya memilih mengembara hingga saya ditemukan, entah oleh siapa, entah oleh apa.

Kepada mereka berdua, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga selalu menyebarkan kebahagiaan melalui jalan yang kalian pilih.

Sepertinya martabakasin sudah mencapai potongan martabaknya yang paling akhir. Karena semua sungkan untuk menghabiskan potongan terakhir, biar saya yang memakannya, membuang bungkusnya, dan terus mengingat-ingat seperti apa rasanya.

Semoga martabakasin kalian enak, ya!

Sampai jumpa!

Anak Sholeh Kesayangan Ibu

Ibunya selalu membanggakannya. Ia anak yang rajin, tekun belajar, hormat kepada orang tua, sederhana, dan yang terpenting, taat beragama. Ibunya tak pernah mengharapkan anak yang lebih baik daripada dia.

Sejak SMP dan SMA, dia tak pernah luput shalat lima waktu. Sesekali, jika sedang tidak disibukkan tugas-tugas sekolah, ia akan berangkat ke masjid untuk menunaikan shalatnya. Bahkan ketika mendekati masa ujian nasional, dia akan menyempatkan diri berpuasa tiap hari senin dan hari kamis seperti yang dianjurkan oleh agama.

Betapa bangganya ibunya setiap kali bercerita ke rekan sejawatnya. Rasa syukur dan sedikit jumawanya akan terlontar dalam setiap kisah tentang anaknya. Tak jarang pula si ibu menganjurkan rekan-rekannya untuk mengikuti doa yang dirapalkan agar anak-anak rekannya dapat sebaik dan sesholeh anaknya.

Tingkat jumawa dan syukurnya kian meroket ketika mendapati anaknya diterima di universitas kenamaan di negeri ini. Masa depan cerah menjadi jaminan mengingat jurusan yang diambil anaknya bukan main-main: akuntansi. Di kepalanya sudah bisa ia bayangkan anaknya duduk di gedung bertingkat ibu kota, mengenakan setelan jas kelewat rapi, berbicara memimpin rapat sebuah perusahaan yang selalu diawalinya dengan kata basmalah. Ya, itu semua berkat doa-doanya. Berkat doa-doanya, ia memiliki anak yang sholeh taat beribadah dan memiliki masa depan yang cerah.

Sayangnya, beberapa hari setelah memulai kuliah, anaknya mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan depan lawan depan dengan sebuah truk yang melaju kencang di jalan lingkar kota ketika ia berusaha menyalip mobil besar lebar dan lambat yang ada di depannya. Setelahnya, dia terbaring kritis di ranjang rumah sakit.

Si ibu, dengan tingkat iman yang tidak perlu ditanyakan lagi, selalu menemani anaknya di lorong tunggu rumah sakit, sambil memohonkan keselamatan bagi si anak. Jika dalam keadaan kritisnya si anak boleh ditemani di samping ranjang, ibunya akan tepat berada di sampingnya untuk membacakan surat-surat dan memohon kesembuhan anaknya kepada Tuhan.

Dalam setiap air mata yang tertahan, dia berdoa, “Ya Tuhan, sembuhkanlah anak hamba. Dia anak yang sangat taat kepadamu. Dia juga anak yang berbakti pada hamba, ya Tuhan. Hamba mohon, Tuhan, jangan ambil anak hamba satu-satunya, harta hamba yang tersisa di dunia ini.”

Beberapa hari setelah merutinkan ritual tersebut, perawat memanggil si ibu untuk masuk ke ruangan tempat anaknya dirawat. Ini bukan panggilan biasa. Ada raut wajah dingin yang terpancar dari sang perawat.

Begitu masuk, ia dapat melihat anakya berada di ambang sadar dan tidak sadar. Dokter yang berada di sana mengisyaratkan pada si ibu bahwa inilah saat-saat terakhir anaknya.

Sekejap saja, air mata meleleh dari bola mata si ibu. Dia masih berusaha tegar. Dia yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi anaknya. Didekatinya telinga kanan anaknya, dibisikannya kata-kata “la ilaha illallah” ke dalamnya, untuk menuntun sang anak agar mangkat dengan iman di akhir hayatnya.

Suara yang lemah keluar dari mulut sang anak. Ibunya mundur untuk dapat mendengarkan dan menatap anaknya untuk yang terakhir kalinya. Betapa kagetnya si ibu mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan anak sholeh kesayangannya.

Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, dia bicara pada ibunya, “Bu, aku tidak pernah percaya tuhan selama ini. Tidak pernah. Aku hanya berpura-pura agar ibu senang.”

Kata-katanya diikuti dengan senyum terakhir untuk ibunya. Sang ibu berdiri kaku mendengar kata-kata anaknya, seolah-olah ada petir yang menyambar tepat mengenai kepalanya.

Sebelum benar-benar menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali, sang anak menyelesaikan kata-kata terakhirnya.

Heil Hitler!”

Sajak Indomaret

Bayangkan semua bangunan kanan kiri jalan sudah jadi indomaret

Semuanya

Kamu juga tinggal di salah satunya, indomaret itu

Tidur di antara jual beli dan kapitalisme lainnya,

pasta gigi, aqua, sabun, sempak, mantol, kondom, tapi tidak ada BH.

Pernah bertanya kenapa? Kenapa indomaret tidak menjual BH? Entahlah

Kemudian, kamu tertelan sinar lampu indomaret yang lebih terang dari masa depanmu

Bercanda. Baris barusan hanya kalimat satir hiperbolis. Agar lucu, nyatanya tidak.

Tapi serius, walau serius sudah ganti vokalis, bayangkan semua bangunan adalah indomaret.

Hanya ada rumah satu dua yang nyempil di lautan indomaret yang kaummu tinggali.

Apa yang mereka jual? Apa yang dijual rumah satu dua itu?

Apa yang dimiliki rumah yang tidak dimiliki indomaret?

Jawabannya:

Alasan untuk menghindari dunia; Keluarga.

“Maaf ya, absen. Ada acara keluarga.”